Renovasi


Rumah sedang direnovasi dalam satu bulan terakhir ini. Atau kurang dari itu, yang jelas, terasa lama. Bagi sebagian dari kita yang alergi debu, hal ini semacam ujian terus menerus. Atau yang tidak suka berisik. Atau fakta bahwa tidak cukup ruang lagi di rumah untuk menampung penghuninya dan terkikislah ruang privasi itu. Yang jelas, entah kenapa saya sangat sulit untuk melihat renovasi ini menjadi sesuatu yang dirayakan. Cepat selesai saja, lah.


Karena renovasi ini, atap kami dibongkar dan semua kaca jendela dilepas. Tentunya, di bulan musim hujan ini menjadi tantangan sendiri dengan kita yang selayaknya lebih berhati-hati.

Tapi pagi ini, saya serasa dibangunkan dari ketidaksukaan saya dengan tampilan ini. Pohon hijau yang sebelumnya tidak terlihat karena tertutup jendela, menyeruak jelas, menawarkan suatu obat untuk mata di antara terpal, debu, dan serpihan kayu.

Mungkin renovasi ini tidak seburuk itu. Apalagi, kita tahu dan yakin bahwa renovasi ini dilakukan untuk kebaikan ke depan (seperti, tidak khawatir genting akan jatuh ketika hujan deras). Walau tidak ada yang bisa memastikan tidak ada ketidaknyamanan lagi ke depannya, tapi kita tahu ada niat dan perencanaan yang benar di balik itu dan usaha yang perlu dilakukan, sudah dilakukan.

Tahun 2019 ini tahun yang aneh untuk saya. Tidak berarti banyaknya kejadian acak yang tidak diduga sebelumnya, hal ini lumrah dan saya suka kejutan. Tapi, lebih ke saya sendiri. Identitas dan nilai-nilai yang saya pegang. Apa dan siapa yang menurut saya penting. Agak sedikit ricuh dan berantakan. Ibaratnya, seperti sedang ada renovasi dalam internal diri saya. Namun, berbeda dengan renovasi rumah yang tahu apa yang perlu diperbaiki dan ditambal, renovasi diri lebih ke percobaan terus menerus. Mencoba bagian yang sesuai, yang cocok, atau memang harus diganti secepatnya. Renovasi diri tidak jelas ada batas waktu, kapan mulai kapan berakhir. Dan sayangnya, keyakinan bahwa ini akan membawa perubahan yang lebih baik jadi pun sayangnya terlewatkan.

Tahun ini, rasanya saya agak acuh, kurang mendengarkan, dan berlari terus saja. Apakah buruk? Tidak juga. Toh saya tahu apa yang saya lakukan dan mengapa. Tapi, bagaimana kalau pilihan saya ada yang merugikan orang lain? Terlepas dari keyakinan kita sendiri mengenai apa yang benar dan apa yang salah, ketika ada yang tersakiti, apakah bisa dijustifikasi?

Terkadang, ambisi atas apa yang dirasa layak, bisa mengikis apa yang dirasa perlu. Ada hal-hal yang saya kaitkan sebagai identitas saya, seperti laut dan menyelam, seperti berpergian yang jauh seorang diri. Mungkin tidak terdengar fundamental dan iya, saya pun tidak akan tiba-tiba kesulitan bernafas kalau ada yang tidak terpenuhi. Tapi kemudian saya sadari bahwa sayangnya, ternyata cukup untuk membuat diri saya merasa asing.

Atau, hal-hal seperti moralitas yang kemudian ditantang dengan pandangan yang sepertinya non-konvesional tapi ketika dilihat kembali, apakah benar-benar salah? Atau pandangan kita saja yang terlalu sempit selama ini - merasa tahu dengan pasti apa yang benar dan apa yang salah? Dan lalu ketika mencoba menantang batas tersebut, malah mengancam diri untuk hilang arah. Seperti kehilangan kompas.

Saya manusia yang sederhana. Pada dasarnya saya yakin hidup ini sebentar dan mungkin tidak ada arti intrinsiknya. Namun, mengamini hal tersebut tidak serta merta membuat seseorang menjadi nihilis, tapi sadar bahwa arti dan bagaimana hidup ini dihidupi bergantung dari apa yang orang tersebut lakukan dan/atau percayai. Memegang hal tersebut, saya selalu berkeyakinan bahwa pada atomnya, yang penting cuma satu; memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk sebanyak-banyaknya orang dan seminimalnya tidak menyakiti orang lain. Tapi, di tahun ini, seakan nilai tersebut digoyahkan, dengan mengedepankan kebahagiaan pribadi. Sesungguhnya sangat manusiawi, karena ketika hal tersebut bertentangan, sepertinya terlalu munafik untuk menjadi malaikat. Namun, sampai batas apa hal tersebut bisa ditolerir? Sampai kapan mau menafikkan kompas tersebut?

Awal paragraf tadi saya tulis sekitar satu pekan lalu dan ketika menulis ini saya sadar bahwa masih ada perombakan dan renovasi sana-sini di diri. Namun, sepertinya mungkin lebih bijak untuk menyadari bahwa proses ini adalah proses berjalan. Yang mungkin tidak selesai serta merta, tapi tidak boleh ditanggalkan begitu saja. Mungkin, kesadaran bahwa diri masih banyak kekurangan dan perlu diperbaiki terus menerus adalah suatu langkah. Kesadaran adalah sesuatu yang perlu tetap disyukuri sembari terus berbenah.

Comments